Jumat, 03 Juli 2009

Kronologi Pernikahan Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS dengan Dr. Lucky Aziza Bawazier, SpPD-KGH

Kronologi Pernikahan Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS dengan Dr. Lucky Aziza Bawazier, SpPD-KGH

- Tahun 1980 : Mulai kenal, karena saya (Rudy Sutadi) tidak naik ke Tingkat IV FKUI (tinggal tingkat), sedangkan dia (Lucky Aziza Bawazier) naik dari Tingkat II ke Tingkat III. Yaitu pada bulan September 1980, saat Lucky Aziza mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya ayah dari Rudy Sutadi.
- Saat itu Lucky Aziza sedang mengalami keguncangan. Ia dikucilkan oleh teman-teman setingkatnya karena saat di Tingkat I bentrok dengan salah seorang dosen (Bapak Osfian). Selain itu, dia bentrok dengan pacarnya yang masih sepupu (anak dari kakak ibunya), yaitu berulang kali cekcok – putus – rujuk. Sehingga Lucky Aziza sering mengamuk, sampai merusakkan dan menghancurkan barang-barang, termasuk juga piala-piala kesayangannya sebagai juara kelas maupun juara umum saat di Sekolah Menengah Atas, dan berbagai kliping koran maupun piagam-piagam penghargaannnya.
- Oleh karena itu, Dr. Lucky mendapat obat-obat untuk gangguan jiwa (psikotropik) dari Psikiater, dan ditangani/diawasi oleh Psikiater, selain juga oleh Psikolog (Sahat Marpaung), juga diberikan obat-obat penenang oleh kakak tertuanya yang juga seorang dokter senior yaitu Dr. Alwiyah Bawazier.
- Sehingga, walau sebenarnya pada dasarnya Lucky Aziza adalah seorang yang pintar, tetapi karena keguncangan kejiwaan yang sedang dialaminya, menyebabkan dia (Lucky Aziza) mengalami masalah/kesulitan belajar. Kemudian saya terpanggil untuk membantu dia belajar, menemani dia belajar, bahkan menemani dia saat ujian lisan dengan menungguinya di depan pintu di mana dia (Lucky Aziza) sedang menghadapi ujian lisan, sesuai permintaannya. Nota bene, tanpa bermaksud sedikitpun memacarinya.
- Pada akhir tahun 1981, Lucky Aziza mengajak saya meninjau rumah yang akan didiami olehnya dan keluarganya, yaitu yang berada di Jl. Teuku Umar No.45, Jakarta Pusat, yang saat itu hampir selesai renovasinya. Kamipun berkeliling rumah, memasuki ruangan demi ruangan, kamar demi kamar, yang saat itu hanya beberapa tukang yang bekerja karena renovasi hampir selesai. Saat berada di dalam kamar yang akan didiami Lucky Aziza, saya (Rudy Sutadi) lihat bahwa set kamar telah lengkap, tempat tidur, meja kursi, dan lemari. Tiba-tiba Lucky Aziza memeluk saya (Rudy Sutadi) dari belakang. Mungkin itu kesalahan saya, karena menurut ajaran Islam, tidak boleh seorang lelaki dan seorang perempuan hanya berduaan saja di dalam satu ruangan/kamar.
- Sejak itulah hubungan kami berdua berubah. Saya (Rudy Sutadi) tetap membantu dia (Lucky Aziza) belajar, menemani dia belajar, juga tetap menemani dia saat ujian lisan dengan menungguinya di depan pintu di mana dia (Lucky Aziza) sedang menghadapi ujian lisan.
- Karena waktu itu bantuan biaya kuliah dari kakak-kakak saya bisa dikatakan pas-pasan, karena kakak-kakak sayapun baru mulai merangkak meniti kehidupan. Saya tinggal di rumah ko-asisten yang berada di dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk menghemat biaya. Lucky Aziza mulai membantu saya dalam hal makan siang, kemudian akhirnya makan siang dan makan malam.
- Namun, setelah Lucky Aziza mulai membiayai makan saya (Rudy Sutadi), perlakuan dia mulai berubah. Yaitu dia mulai berbicara dengan nada menyentak, bahkan mudah marah dan membentak serta mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar dan/atau menyakitkan hati. Oleh karena latar belakang masalah kejiwaannya, saya bersabar menghadapi perilaku dia. Namun perilakunya terhadap saya bukannya menurun, malah semakin lama semakin meningkat. Perilakunya tetap impulsif dan eksplosif. Yaitu maksudnya, mudah sekali marah, dan bila marah meledak-ledak, meluapkan amarahnya, tanpa ada usaha sedikitpun menahan/membendung nafsu amarahnya, bahkan cenderung agresif dan destruktif. Saya (Rudy Sutadi) berpikir, sekeras-kerasnya batu bila ditetesi air maka akan luruh juga. Ternyata Lucky Aziza bukan sekedar batu karang, mungkin dia baja tahan karat. Ternyata perilakunya yang demikian itu tidak hanya kepada saya, kepada keluarganyapun demikian itu, bahkan kepada Ibunya sekalipun Lucky Aziza tidak segan-segan membentak-bentak. Sedangkan perilaku saya sendiri dikenal sebagai penyabar. Keponakan-keponakan Lucky pun mengidolakan saya, dan mengidolakan bila punya suami ingin seperti saya. Mereka (keluarga, teman, sejawat, dan lain-lainnya), yang mengenal saya (Rudy Sutadi) mapun Lucky Aziza, pastilah akan membenarkan betapa penyabarnya saya, dan betapa pemarah dan kasarnya perilaku Lucky Aziza.
- Desember 1983, saya (Rudy Sutadi) dan dia (Lucky Aziza) lulus dari FKUI
- Tahun 1984, Dr. Rudy dan Dr. Lucky mulai bekerja di Praktek Dokter 24 Jam.
- Dr. Rudy bekerja di Klinik Dr. Iwan & Dr. Joko, di Jl. RS Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan, juga di Klinik Pondok Bambu, Jl. Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
- Dr. Lucky bekerja di Klinik Dr. Sukardi, yaitu di Menteng dan di Depok.
- Penghasilan Dr. Rudy jauh lebih besar dibanding Dr. Lucky, karena pasien-pasien di klinik tempat Dr. Rudy bekerja jauh lebih banyak dibanding klinik tempat Dr. Lucky bekerja, selain kemampuan pasien-pasien lebih tinggi di tempat Dr. Rudy bekerja. Dan Dr. Rudy bekerja 6-7 hari dalam seminggu, yaitu hari Senin-Rabu-Jum’at di Klinik Dr. Iwang & Dr. Joko, dan hari Selasa-Kamis-Sabtu di Klinik Pondok Bambu, sedangkan hari Minggu selang-seling bergantian dengan teman saya di Klinik Dr. Iwang & Dr. Joko.
- Sejak penghasilan pertama, Dr. Lucky meminta supaya penghasilan Dr. Rudy disimpan oleh Dr. Lucky
- Tahun 1985, Dr. Rudy bersama Dr. Lucky mulai membuka sendiri Klinik Praktek Dokter 24 Jam, di Jalan Radio Dalam Raya No.12, Jakarta Selatan. Dengan modal dari tabungan berdua antara Dr. Rudy dan Dr. Lucky, tidak ada bantuan dari keluarga Dr. Lucky (hanya sumbangan 1 AC dan 1 lemari es untuk vaksin dari Ibunya Dr. Lucky). Tabungan saya jauh lebih banyak dibanding tabungan Dr. Lucky, seluruhnya digunakan untuk modal klinik.
- Sampai dengan tahun 1989, atas inisiatif saya, klinik berkembang dari 1 buah menjadi 4 buah, yaitu selain di Jl. Radio Dalam Raya No.12, Jakarta Selatan, juga di Jl. Buncit Raya No.38, Jakarta Selatan; Jl. KH Moh. Mansyur No.60, Jakarta Pusat; dan Jl. Senopati Raya, Jakarta Selatan. Tidak ada bantuan modal sedikitpun dari keluarga Dr. Lucky.
- Sehingga sampai dengan tahun 2004, kami mempunyai 40 klinik dan 1 buah rumah sakit. Peran saya sungguh sangat besar, yaitu mulai dari penetapan lokasi yang strategis, renovasi, pembagian dan design ruangan, tata-letak, serta dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur sistim administrasi, sistim keuangan, sistim perbankan pemasaran, sistim pelayanan, dan berbagai bidang manajerial lain sebagainya. Sedangkan kelebihan Lucky Aziza hanya satu, yaitu dalam hal negosiais harga pembelian obat, sehingga bisa memperoleh discount yang cukup besar. Tapi peranan saya yang sangat besar itu sama sekali tidak diakui, saya dikatakan tidak mempunyai peran apa-apa, saya digambarkan sebagai orang yang malas, tiduran melulu, sarungan melulu.
- Dari dulu sampai seterusnya, saya (Rudy Sutadi) sangat berperan besar, yaitu mulai dari penetapan lokasi yang strategis, renovasi, pembagian dan design ruangan, tata-letak, sistim administrasi, sistim keuangan, perbankan, pemasaran, sistim pelayanan, dan dalam berbagai bidang manajerial lain sebagainya. Sedangkan kelebihan Dr. Lucky hanyalah dalam negosiasi dengan perusahaan obat.
- Akhir tahun 1989, Dr. Rudy dan Dr. Lucky diterima untuk mengikuti pendidikan spesialisasi di FKUI/RSCM, dan akan mulai orientasi pendidikan sejak pertengahan Desember 1989.
- Lucky Aziza diterima di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, sedangkan saya (Rudy Sutadi) diterima di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM. Waktu itu kami berpikir bahwa kalau kami sudah mengikuti pendidikan spesialis, maka tentulah waktu kami akan banyak tersita. Oleh karena itu, kami merencanakan untuk pergi jalan-jalan ke Australia.
- Oleh karena itu Dr. Rudy dan Dr. Lucky berencana pergi jalan-jalan ke Australia
- Sekitar 2 (dua) minggu sebelum keberangkatan ke Australia, Ibu dari Dr. Lucky mengatakan kepada Dr. Lucky yang kemudian disampaikan ke Dr. Rudy, bahwa tidak akan mengijinkan pergi berdua bila belum menikah.
- Kemudian Dr. Rudy menghadap kakak lelaki tertua dari Dr. Lucky yaitu Naif Abdullah Bawazier. Kemudian Bapak Naif menyampaikan ke ayah mereka (ayah Naif dan ayah Dr. Lucky) yang lalu mengijinkan pernikahan tersebut.
- Oleh karena itu kemudian Dr. Rudy mengurus surat keterangan bujangan dan untuk ijin numpang menikah dari RT, RW, Kelurahan tempat saya tinggal (Pondok Kopi). Yaitu asal domisili Dr. Rudy adalah Jakarta Timur, untuk numpang menikah di Menteng, Jakarta Pusat yaitu domisili Dr. Lucky.
- Surat-surat tersebut beserta pas foto Dr. Rudy atas perintah Dr. Lucky, saya serahkan ke Bapak Mahdi Saleh yang merupakan karyawan kepercayaan Dr. Lucky, untuk diuruskan segala sesuatu mengenai pernikahan (Bapak Mahdi Saleh akan mengurus pernikahan Dr. Rudy dan Dr. Lucky).
- Dalam kesaksiannya di persidangan bulan Desember 2004, Lucky Aziza mengatakan bahwa kami menikah secara syiri, di bawah tangan. Katanya, karena itu merupakan kebiasaan di kalangan keturunan Arab di Indonesia. Pernyataan Lucky Aziza tersebut adalah bohong besar, karena sekitar hampir dua tahun sebelumnya, adiknya yang bernama Lina Asmahan Bawazier menikah di rumah orangtuanya di Menteng, Jakarta Pusat, tidak secara syiri, tidak di bawah tangan, mereka menikah secara resmi dengan penghulu dari Kantor Urusan Agama, walaupun suami dari Ibu Lina adalah orang Palestina berkewarganegaraan Jordania. Setelah itu, merekapun bercerai secara resmi melalui Pengadilan Agama.
- Jadi adalah bohong bahwa menikah syiri, menikah di bawah tangan adalah kebiasaan bagi keluarga mereka. Keponakan-keponakan Lucky Azizapun menikah secara resmi melalui Kantor Urusan Agama, walaupun penyelenggaraan akad nikahnya dilakukan di rumah atau di gedung, bukan di Kantor Urusan Agama. Sayapun pernah dijadikan saksi pada akad nikah keponakan-keponakan Dr. Lucky.
- Tanggal 30 November 1989, Dr. Rudy dan Dr. Lucky menikah di Masjid Cut Mutiah, Jakarta Pusat, dinikahkan oleh penghulu dengan wali ayah dari Dr. Lucky yaitu Abdullah Bawazier. Dengan saksi dari keluarga Dr. Rudy adalah Dr. Jody Setyadi, dan saksi dari keluarga Dr. Lucky adalah Naif Abdullah Bawazier.
- Akad nikah tersebut dihadiri oleh keluarga Dr. Rudy dan keluarga Dr. Lucky.
- Keluarga Dr. Rudy yang hadir antara lain ibu (Saydah Sjaif), dan kakak-kakak yaitu Emmy Sulistyawati, Dr. Jody Setyadi, Eureka Widiastuti, Evy Ratnawati, Erna Rahmawati.
- Keluarga Dr. Lucky yang hadir antara lain ayah (Abdullah Bawazier), ibu (Noer Bawazier), dan kakak-kakak yaitu Alwiyah Bawazier, Naif Abdullah Bawazier; Serta ipar yaitu Sidah dan Ellya, serta beberapa keponakan
- Selama berlangsungnya prosesi akad nikah, Dr. Lucky bersama ibunya berada di ruang terpisah, jadi tidak mengetahui apa-apa yang terjadi. Barulah setelah selesai akad nikah, Dr. Lucky mendatangi Dr. Rudy.
- Selama pernikahan, dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yaitu Abdullah Prima Prakarsa Dyckyputra (lahir 20 Juli 1994) dan Muammar Amien Dyckyputra (lahir 12 Januari 2000).
- Selama pernikahan, klinik berkembang menjadi 40 klinik Praktek Dokter 24 Jam dan 1 buah Rumah Sakit (RS JMC, Jl. Buncit Raya No.15, Jakarta Selatan).
- Selama masa pacaran Dr. Lucky mulai mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakitkan. Dr. Rudy tetap bersabar, dengan anggapan bahwa sekeras-kerasnya batu karang bila ditetesi air maka akan luruh juga. Ternyata anggapan tersebut salah, sebab Dr. Lucky berkata-kata dan bersikap kasar pada semua orang, termasuk juga kepada ibu kandungnya sendiri. Hal tersebut berlanjut terus setelah pernikahan. Orang-orang yang mengenal Dr. Lucky pastilah akan membenarkan bahwa sifat Dr. Lucky adalah impulsif dan eksplosif, yaitu mudah sekali marah, dan bila marah meledak-ledak, tidak bisa menahan/mengekang/mengendalikan nafsu amarahnya. Bahkan terkadang agresif dan destruktif.
- Setelah menikah, seringkali Dr. Lucky melontarkan kata cerai, walaupun oleh sebab yang sepele dan bukan kesalahan Dr. Rudy, misalnya setelah menonton film di mana Dr. Lucky tidak menyukai peran aktor lelakinya.
- Saat hamil anak pertama (Abdullah Prima Prakarsa Dyckyputra), Dr. Lucky sering mengancam untuk menggugurkan kandungannnya oleh sebab Dr. Rudy yang lebih menginginkan mempunyai anak.
- Saat Abdul berusia 2 tahun 6 bulan, didiagnosis autisme oleh Dr. Hardiono D. Poesponegoro, SpAK, dan Dr. Melly Budhiman, SpKJ. Dan oleh karena saat itu di Indonesia belum ada penanganan yang jelas khusus untuk autisme, maka Dr. Rudy mempelajari sendiri mengenai ABA (Applied Behavior Analysis) di Australia dan Amerika, dan kemudian menterapkannya kepada Abdul. Setelah menampakkan hasil, maka banyak orangtua dan profesional yang ingin mengetahui ABA, sehingga Dr. Rudy sering melakukan pelatihan, workshop, seminar, simposium ke seluruh Indonesia.
- Keretakan rumah tangga kami bukan disebabkan saya selingkuh, tetapi justru dimulai ketika timbul dugaan kuat sejak awal tahun 2002 bahwa istri saya, Lucky Aziza, selingkuh dengan supir pribadinya yang bernama Fikri Salim alias Kiki.
- Dugaan tersebut timbul karena, beberapa kejadian di tahun 2002, antara lain :
1. Saya memergoki Lucky Aziza berbicara mesra dan manja pada Fikri Salim alias Kiki.
2. Suatu malam, saat Lucky Aziza dan Fikri Salim pulang ke rumah, setelah mobil diparkir di garasi, saya keluar dari ruang keluarga dengan maksud menyambut kedatangan Lucky Aziza, namun saya pergoki bahwa Lucky Aziza meninggalkan Fikri Salim sambil ngambek, seperti ngambek dengan pacarnya.
3. Suatu malam, sekitar pukul 23 lebih, saya menelpon ke RS JMC ingin bicara dengan Lucky Aziza, tetapi resepsionis menjawab bahwa Lucky Aziza sudah pulang lebih awal sekitar sebelum pukul 19. Saya mencoba menelpon HP milik Lucky Aziza, namun tidak dijawab, walaupun saya telpon berkali-kali. Saya kemudian coba telpon HP milik Fikri Salim alias Kiki, namun juga tidak dijawab, walaupun saya mencoba telpon berkali-kali. Setelah itu, saya menelpon HP mereka berbarengan dengan menggunakan HP dan telpon rumah sekaligus, sampai akhirnya Fikri Salim alias Kiki menjawab telpon saya dan mengatakan bahwa mereka mampir di restoran. Setelah itu telpon saya juga dijawab oleh Lucky Aziza yang mengatakan hal yang sama.
4. Kecurigaan perselingkuhan pernah saya utarakan pada istri saya, Lucky Aziza. Namun responsnya dingin saja dengan mengatakan ”coba saja buktikan”. Hal ini sangat berbeda sekali dengan perilaku Lucky Aziza yang biasanya impulsif dan eksplosif bahkan agresif. Kalau memang tidak, pastilah Lucky Aziza telah marah besar dan meledak-ledak. Waktu itu saya katakan bahwa saya akan cari bukti.
5. Respons yang dingin juga pernah Lucky Aziza lakukan saat saya utarakan kecurigaan perselingkuhan tersebut baik saat kami berdua maupun di depan kakaknya yang bernama Naif Abdullah Bawazier. Lucky Aziza hanya berkata enteng, bahwa masa dia main gila dengan anak muda. Saat saya katakan ”banyak kok nenek-nenek yang main dengan pria tujuh belasan” yang diiyakan oleh Naif, tetapi Lucky Aziza hanya diam saja.
6. Belakangan saya ketahui bahwa Lucky Aziza beberapa kali memberi uang ke Fikri Salim dalam jumlah puluhan juta rupiah. Misalnya saat Fikri Salim cuti ke Menado, kota asal kelahirannya, Lucky Aziza membiayai pesawat pulang balik dan memberikan uang sebesar 20 juta rupiah. Saat saya ketahui hal tersebut beberapa bulan kemudian, maka beberapa hari kemudian Lucky Aziza membuat surat seakan-akan Fikri Salim meminjam uang kepada Lucky Aziza.
7. Belakangan saya sadari, kalau Lucky Aziza membeli kemeja untuk saya, apakah di dalam negeri atau di luar negeri, pastilah tidak lupa juga membelikan kemeja untuk Fikri Salim, dengan merek yang sama, dengan harga paling tidak antara 700 ribu sampai satu setengah juta rupiah. Bedanya kalau saya kemeja lengan panjang, sedangkan untuk Fikri Salim kemeja lengan pendek.

- Namun setelah itu, Lucky Aziza mencoba memojokkan saya, yaitu dengan memecat sekretaris saya yang baru dua bulan bekerja, hanya karena Lucky Aziza mendengar saya saat menerima telpon di rumah, di depan Lucky Aziza, saya berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal memang sehari-hari saya biasakan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan dia, nota-bene tujuan saya merekrut sekretaris baru tersebut adalah untuk melatih dan menjaga kemampuan komunikasi bahasa Inggris saya.
- Alasan lain Dr. Lucky memecat sekretaris saya, adalah karena sekretaris saya tersebut berada dalam satu kamar kerja dengan saya di Rumah Sakit JMC. Padahal kamar kerja saya bersebelahan dengan kamar 5 orang staf saya, dan dihubungkan dengan pintu kaca polos yang selalu dalam keadaan terbuka. Alasan lainnya adalah ketika Lucky Aziza melihat sekretaris saya menggunakan baju body-fit dan celana jins saat mengikuti kegiatan pra raker sampai malam dengan beberapa orang supervisor dan staf, padahal saya sendiri tidak ikut dalam kegiatan pra raker tersebut.
- Kemudian sasaran beralih kepada orangtua pasien yang beberapa kali melakukan konsultasi ke rumah saya mengenai ABA (Applied Behavior Analysis) dan Intervensi Biomedis untuk anaknya yang menderita autisme. Memang untuk konsultasi mengenai hal itu bisa menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam lamanya, ini memang umum terjadi pada semua orangtua pasien yang berkonsultasi dengan saya. Dan orangtua pasien umumnya datang paling tidak bersama terapis-terapis mereka.
- Memang kadang kalau konsultasi autisme hanya 1 pasien saja, saya lebih ingin menerima mereka di rumah, bukannya di klinik. Yaitu karena waktu untuk menunggu kedatangan pasien dapat saya gunakan bersama dengan anak saya yang kedua yaitu Ammar yang saat itu masih di play-group sehingga lebih banyak waktunya berada di rumah. Dan segera setelah pasien pulang, saya dapat langsung segera bertemu dengan Ammar kembali. Sedangkan kalau saya menerima di klinik, maka paling tidak saya membutuhkan waktu 2 jam untuk pulang pergi, belum lagi bila pasien tidak datang tepat pada waktunya.
- Namun karena pada akhir tahun 2002 Lucky Aziza berkeberatan saya menerima konsultasi autisme di rumah, maka hal itu tidak lagi saya lakukan. Semua konsultasi autisme saya lakukan di klinik/rumah sakit.
- Namun Lucky Aziza tetap berkeberatan saya menerima konsultasi salah satu orangtua. Karena saya menghargai istri saya, maka pada tanggal 29 Januari 2003, di depan istri saya, saya menelpon orangtua dimaksud dan mengatakan bahwa saya tidak akan menerima konsultasinya lagi lebih lanjut, dan saya anjurkan untuk konsultasi ke dokter lain seperti misalnya Dr. Melly Budhiman, SpKJ. Namun kemudian Lucky Aziza ikut-ikut bicara dan kemudian mengambil alih handphone dan berbicara langsung dengan orangtua tersebut, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka berdua.
- Pada hari-hari berikut terjadi teror telpon ke rumah kami, yaitu seringnya telpon masuk pada tengah malam, namun tidak ada orang yang berbicara setelah telpon dijawab. Selain itu puluhan SMS masuk ke handphone saya, yang umumnya mengata-ngatai bentuk dan penampakan fisik istri saya. Oleh karena saya merasa terganggu, maka dengan bantuan Kepolisian RI, pada Juni 2003 dapat diketahui bahwa SMS tersebut berasal dari rumah orangtua tersebut. Saya ingin melanjutkan proses laporan saya ke Kepolisian RI, namun dicegah oleh istri saya dengan mengemukakan bahwa sesuai dengan anjuran kakaknya, supaya dilakukan cooling-down dulu, untuk baru setelah 2-3 tahun kemudian ”digebat” dengan cara lain, entah apa maksudnya.
- Namun setelah itu Lucky Aziza mendapat bahan caci maki baru, misalnya ”Lu bawa pelacur Cina ke rumah”, ”Lu melacur di rumah”, dan lain sebagainya. Saya sering menjadi sasaran kemarahan dia, apapun alasannya, apakah oleh sebab yang berkaitan dengan saya ataupun tidak. Seperti misalnya bila dia mempunyai persoalan dengan temannya, atau ada persoalan di RSCM tempatnya bekerja, atau apapun, maka sayalah yang menjadi sasaran amukan kemarahannya.
- Saya pernah menawarkan kepada dia, bila ingin cerai maka cerailah secara baik-baik, saya tidak menuntut harta, silahkan ambil semua, saya cukup nol rupiah saja. Tetapi bila ingin akur, maka akur dengan baik pula, jangan 1-2 hari akur atau 1-2 minggu akur, kemudian saya jadi sasaran amukan lagi.
- Lucky Aziza selama itu tidak mau bercerai dengan saya karena seperti dia kemukakan bahwa dia kuatir setelah kami bercerai maka saya akan menikah dengan orangtua yang dia tuduh selingkuhan saya, dan dia tidak mau harta gono-gini bagian saya jatuh pada orangtua tersebut yang dia katakan sebagai pelacur Cina. Hal-hal itu tentunya dikemukakan oleh Lucky Aziza dalam bahasa caci-maki dan marah-marah Terlebih lagi, Lucky Aziza tidak rela adanya pembagian harta gono-gini. Maka mungkinkah oleh karena sebab itu dirancang suatu skenario untuk menguasai semua harta yang ada?
- Dr. Lucky pernah mengajukan gugatan cerai sebanyak 2 kali. Yang pertama pada bulan Juli 2003, menggunakan jasa pengacara Poltak Silaban. Tetapi setelah adanya relaas dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat, gugatan cerai tersebut ditarik kembali oleh karena Dr. Lucky dimarahi oleh kakaknya yaitu Naif Abdullah Bawazier. Gugatan kedua, yaitu saya terima relaas dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada tanggal 8 Maret 2004, tetapi kemudian dicabut kembali oleh karena Dr. Lucky baru mengetahui bahwa bila bercerai maka saya berhak atas harta gono-gini.
- Kemudian setelah itu, Lucky Aziza menekankan bahwa tidak ada harta gono-gini, tidak ada pernikahan karena akte/buku nikah tidak tercatat di Kantor Urusan Agama. Sehingga, di Polda Metro Jaya, selain saya diperiksa sebagai tersangka oleh Sat Harda Bangtah mengenai perkara pidana yang sedang dilakukan persidangannya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur ini, waktu itu (bulan September 2004), saya juga diperiksa oleh Sat Renakta Polda Metro Jaya sebagai tersangka pemalsuan akte/buku nikah yang dilaporkan oleh Lucky Aziza. Namun kenyataannya ternyatalah bahwa hasil pemeriksaan saya sebagai tersangka maupun saksi-saksi, tidak mengarah ke saya. Itu saya ketahui dari foto kopi BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saya maupun saksi-saksi, yang banyak coretan-coretan serta komentar-komentar berupa tulisan tangan Lucky Aziza di setiap lembarnya. Oleh karena itu, menurut informasi yang saya dengar, Lucky Aziza bersama teamnya mempersiapkan laporan baru untuk menjerat saya sebagai tersangka pemalsuan akte/buku nikah. Yang menjadi pertanyaan saya, sepanjang yang saya ketahui bahwa berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan) di Kepolisian adalah dokumen rahasia negara. Lalu, bagaimana mungkin BAP tersebut dapat dimiliki oleh Lucky Aziza, yang kemudian memberi coretan-coretan dan komentar-komentarnya di sana-sini?
- Dr. Lucky dalam pertengkaran, sering mengatakan bahwa saya psikopat. Tetapi kakak-kakaknya tidak setuju terhadap pendapat tersebut. Kakak tertuanya yaitu Dr. Alwiyah Bawazier mengatakan kepada saya, bila Dr. Lucky mengatakan saya psikopat dan harus berobat ke psikiater, maka ajak saja pergi bersama ke psikiater biar ketahuan jelas siapa yang sakit jiwa. Tentunya ini disebabkan oleh karena Dr. Alwiyah Bawazier sendiri ikut menangani masalah kejiwaan pada Dr. Lucky, paling tidak dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1980an. Sedangkan kakak lelaki tertuanya yaitu Naif Abdullah Bawazier beberapa kali mengatakan kepada saya ”Rud, kalau gue lihat-lihat, yang sakit jiwa sih adik gue. Tapi lu sabar aja, kalau lu di penjara, terus adik gue masuk rumah sakit jiwa, terus anak-anak jadi sama siapa?!”
- Sejak akhir April 2004, atas anjuran Irjen Saleh Saaf yang saat itu masih berdinas di Mabes Polri (seminggu sebelum ditugaskan menjadi Kapolda Sulsel), Dr. Rudy dan Dr. Lucky dianjurkan berpisah rumah dahulu untuk sementara agar supaya masing-masing introspeksi.
- Namun sepulang saya dari umroh pada bulan Juni 2004, saya tidak dapat masuk ke dalam rumah di Jl. Sutan Syahrir No.5 dan 6, karena dijaga oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Dan juga tidak dapat menemui isteri saya (Dr. Lucky) dan anak-anak, karena rumah sudah dikosongkan, dan tidak diketahui kemana mereka pindah.
- Kemudian saya ketahui bahwa istri saya (Dr. Lucky) beserta anak-anak kami pindah ke Jl. Cikajang No.13, Jakarta Selatan. Namun saya tidak bisa masuk karena tidak diijinkan dan dijaga oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Saya tidak bisa menemui anak-anak saya. Saya juga tidak bisa mendekat ke anak-anak di sekolah karena mereka pulang-pergi diantar-jemput dan dihalangi oleh orang-orang yang tidak saya kenal.


Jakarta, 25 Januari 2005.





Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS

1 komentar:

  1. memang mantan istri anda bnar2 psikopat..saya rasa rumah sakit jiwa manapun bakalan kewalahan menyembuhkan mantan istri anda...

    BalasHapus